TIBA SAATNYA MENYAMBUT RAMADHAN
Penulis : al-Faqir Sumitra Nurjaya S.Pdi
Ketika seseorang
melaksanakan sebuah kegiatan, atau mengunjungi sebuah tempat, atau berkumpul
dengan orang lain, di mana pada saat itu ia merasa tidak akan mengalaminya lagi
untuk kali berikutnya, maka perasaan semacam itu pasti akan menumbuhkan sebuah
semangat baru dalam jiwanya bahwa ia harus optimal untuk memanfaatkan
kesempatan yang kemungkinan besar tidak akan terulang lagi.
Maka, manfaatkanlah secara optimal
kedatangan bulan suci nan mulia ini dengan memperbanyak aktivitas ibadah,
seolah-olah ini adalah ramadhan terakhir bagi kita. Dengan demikian, jiwa kita
akan terdidik untuk melaksanakan ibadah ramadhan dengan sepenuh hati. Ramadhan
datang menghampiri kita sebagai tamu yang mulia. Ia akan memuliakan kita
manakala kita juga memuliakannya. Lantas ia akan menebarkan aneka kebaikandan
berbabagai macam keberkahan. Ia datang kepada kita dan kemudian menyuguhkan
aneka rupa sajian dan hidangan. Ia seorang tamu tetapi ia juga seorang
penyambut tamu.
Mungkin bagi salah seorang di atara
kita ini merupakan jamuan yang terakhir! Lantas mengapa tidak kita muliakan
saja sepenuhnya tamu istimewa ini? Mengapa pula kita tidak menyambut
sajian-sajian spesialnya dengan lahap?
Perjumpampaan kita dengan Ramadhan
adalah perjumpaan orang – orang yang hendak berpisah yang ingin memanfaatkan
waktu perjumpaannya dengan sebaik-baiknya. Tidak dapat dipungkiri perjumpaan
kita dengannya akan menjadikan hati kita bahagia dan berbunga-berbunga. Rasulullah
saw pun dulu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat – sahabat beliau
dengan kedatangan Ramadhan. Ada kegembiraan yang penuh kerinduan terhadap
kenikmatan – kenikmatannya, dan kerinduan pada rahmat Allah yang ada pada
setiap jengkal momennya. Rasulullah saw bersabda :
“Sungguh telah datang kepada kalian
Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya,
pada bulan itu pintu – pintu surge dibuka, sedang pintu – pintu neraka ditutup,
dan setan-setan dibelenggu. Pada malam itu terdapat malam yang lebih baik dari
malam seribu bulan, barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikan pada malam itu,
maka sungguh ia telah merugi”. (HR. Ahmad dan an-Nasai).
Marilah kembali mendalami kalimat –
kalimat yang penuh makna ini, dan membayangkan kesempatan, sifat-sifat, serta
anugrah-anugrah yang terdapat pada bulan ini. Sungguh ia telah berlalu dari
anda dan anda tidak memanfaatkannya, karena anda selalu berharap dan merasa ia
akan kembali datang pada anda.
Renungkanlah! Kita puasa Ramadhan setiap
tahunnya, tapi focus mayoritas kita adalah untuk sekedar terbebas dari tanggung
jawab (kewajiban), bahkan sebatas seremonial belaka. Hendaknya harapan kita
tahun ini adalah mewujudkan arti Shaum (puasa) sebenarnya, yaitu mengharapkan
maghfiroh (ampunan) atas dosa – dosa yang telah kita perbuat.
Renungkanlah! Kita selalu berusaha
mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap bulan Ramdhan. Hendaknya khataman kita
tahun ini adalah khataman yang penuh perenugan dan perhatian pada maksud
kandungan setiap ayat yang kit abaca.
Renungkanlah! Jika kita biasa membuat
keluarga kita bahagia dengan ini dan itu, maka hendaknya tahun ini kita perluas
ruang lingkup kita dengan juga berbagi kebahagian kepada keluarga – keluarga
lain, yang sebahagian ditimpa kesusahan, dalam keadaan sakit dan sebagainya.
Renungkanlah! Selama ini barang kali
anda sering meninggalkan sholat berjama’ah. Maka, tahun ini buatlah target agar
anda melaksanakan shalat fardhu dengan berjama’ah selama ramadhan.
Renungkanlah! Kita biasanya senang
beribadah dengan cara member sajian buka puasa untuk orang lain. Hendaknya kita
membersihkan ibadah ini dari hanya sekedar karena senang dipuji ata menghindari
cemoohan, sebab pemberian yang disertai dengan riya’ (pamer) tidak akan
diganjar dengan pahala. Tetapi orang-orang yang berjuang memerangi riya’lah
yang akan mendapatkan pahala.
Renungkanlah! Hendaknya kita mulai
membatasi waktu – waktu kita berkumpul dengan orang –orang lain, dan mulai
menyendiri untuk intropeksi diri. Karena bisa jadi mendadak kita akan dipanggil
Allah, sendirian di alam kubur, sehingga kita pun akan dihisab sebelum kita
bermuhasabah (mengevaluasi diri).
Renungkanlah! Kedermawanan itu begitu
terpuji saat Ramadhan, dan anda sangat layak untuk mengerahkan kedermawanan itu
pada bulan ini baik sekadarnya maupun secara melimpah. Hendaknya tahun ini anda
meningkatkan Cakupan kedermawanan tersebut dengan juga berbuat baik pada orang
yang pernah memperlakukan anda dengan buruk, menyambung kembali tali
silaturrahim dengan orang yang telah memutuskannya, dan dengan banyak member
kepada orang yang pernah menolak untuk memberi kepada anda.
Lafaz Niat Puasa Yang Benar
Pertanyaan :
Bagaimanakah sebenarnya lafaz niat puasa yang
benar? Sebahagian orang melafazkanya dengan harakat (baris) fathah
“Romadhona”, dan sebahagian yang lain melafazkannya dengan harakat (baris) kasroh “Romadhoni”.
(Dian Fadhilah Hrp di Medan).
Jawab :
Semoga saudara penanya senantiasa dalam
lindungan Allah swt.
Pertama sekali harus menjadi perhatian
penting adalah bahwa orang yang melafzakan niat dengan dengan harakat
(baris) fathah “Romadhona”, maupun orang yang
melafazkannya dengan harakat (baris) kasroh “Romadhoni”
tidak sampai menyebabkan puasa mereka batal atau tidak sah. Karena,
melafazkan niat puasa tidak menjadi rukun maupun syarat sah puasa.
Dalam Gramatikal Bahasa Arab lafaz رمضان
disebut dengan al-ism alladzi laa
yanshorif الأسم الذي لاينصرف , dan kedudukan
lafaz رمضان
pada kalimat tersebut dibaca khofadh (jar)
sebagai mudhofun ilaih مضاف
اليه . al-ism alladzi laa yanshorif الأسم
الذي لاينصرف
apabila dalam keadaan khofadh
(jar) maka tanda khofadh (jar) nya adalah dengan fathah selama ia
tidak beralif lam الatau menjadi mudhof. Nah,
lafaz رمضان
pada kalimat tersebut (baca : niat puasa) dibaca khofadh (jar)
karena kedudukannya sebagai mudhofun ilaih مضاف اليه dan
ia menjadi mudhof (di idhofahkan)
kepada kalimat berikutnya, yaitu kalimat هذه السنة Hadzihis-Sanati. Maka, yang benar adalah lafaz رمضان
di dalam niat puasa dibaca dengan harakat
(baris) kasroh yaitu “Romadhoni”
bukan
“Romadhona”.
Lengkapnya : Nawaitu
Shouma Ghodin ‘an Ada’I Fardhi Romadhoni Hadzihis-sanati Lillahi Ta’ala.
Rujukan ;
1.
Hasyiyah
al-Jurumiyyah, hal 36
قوله وأما الفتحة فتكون علامة
للخفض في الأسم الذي لاينصرف ...فجميع أقسام الأسم الذي لا ينصرف يخفض بالفتحة نيابة
عن الكسرة مالم تضف أو تل أل .
2. Fathul-Muin,
hal 113
وأكملها أي النية نويت صوم غد عن
أداء فرض رمضان بالجر لاضافته لما بعده هذه السنة لله تعالى
Wallahu
A’lam

0 Response to "Makna Ramadhan Bagi Umat Islam (Ustadz Sumitra nur jaya)"
Post a Comment